Minggu, 16 Januari 2011

RENUNGAN


KEHIDUPAN

Manusia terlahir dengan ketidakberdayaan, dengan proses yang begitu panjang dan penuh dengan segala lika-liku, akhirnya manusia dapat berdiri sendiri. Mencari nafkah sendiri, menyelesaikan masalah, dan segala dinamika yang ada dalam kehidupannya. Dari sinilah manusia mulai berfikir tentang jalan kehidupan yang dilalui. Dalam mengarungi kehidupannya, manusia mempunyai segala macam prinsip hidup untuk menempuh kehidupannya. Dengan prinsip-prinsip yang digunakan, muncul suatu berbagai macam corak perilaku yang menyebabkan sesuatu kehidupan terlihat beraneka ragam. Sebenarnya ada satu prinsip yang sangat tidak perlu dibuktikan lagi kehebatannya, yaitu kitab suci dari masing-masing agama. Mengapa ada yang melepas prinsip demikian dan mencari prinsip sendiri sesuai dengan pola pikirnya? Inilah suatu rahasia yang menarik untuk dikupas.
Suatu masalahpun akan menjadi panjang atau selesai menurut prinsip yang dianut. “ Pikirkan hal yang kecil sehingga hal yang besarpun tidak akan pernah terlewatkan untuk diselesaikan “. Seorang ibu marah kepada anaknya karena anaknya berkata tidak sopan. Anak itu sangat ketakutan sehingga sampai besar anak itu selalu teringat akan peristiwa itu dan menjadikan anak itu sudah tidak mau dekat dengan ibunya karena khawatir terkena marah jika salah. Seorang ibu merasa benar, hal kecil harus disikapi, tetapi sang anak menganggap bahwa ibunya suka mencari-cari masalah untuk melampiaskan sesuatu yang ada dihatinya. Apakah mengarahkan atau menyikapi sesuatu masalah kecil harus marah?
“Mumpung masih muda, kumpulkan harta sebanyak mungkin”. Bapak itu di kampung tidak banyak yang cocok dengan cara berpikirnya, dia selalu menimbang segala sesuatu dengan teliti. Memberi sumbangan kepada orang sakitpun, dipikirkan dulu apakah si sakit itu pernah berjasa kepada dia. Apakah lebih baik berprinsip “ Selagi masih muda, beramal sebanyak-banyaknya untuk bekal di kemudian hari”. Mana yang benar, apabila kebenaran menurut dirinya sendiri?
Jalan itu sebaiknya diberi polisi tidur agar pengguna jalan melajukan motornya hati-hati. Benar bagi si pembuat tetapi salah bagi si pedagang telur, karena telurnya selalu ada yang pecah saat melewati jalan itu. Bagi manusia yang tidak berkepentingan mengatakan semua salah dengan alasan jalan sudah baik diberi rintangan dan si pedagang telur juga salah karena sudah tahu ada polisi tidur tetap saja dilewati dengan motor, kan bisa dengan jalan kaki saja. Menggelikan memang.
Dalam bersosialisasi dengan masyarakat harus bisa menjaga situasi. Seorang ibu sering menghina tetangganya saat bertemu dengan temannya, tetapi setelah bertemu dengan tetangganya itu pura-pura ramah agar situasi tetap terjaga, dia bisa menghina dengan sepuas-puasnya tanpa ada rintangan dan aman di depan korbannya sehingga ibu itu merasa dapat menjaga situasi dan merasa dapat bersosialisasi.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELAMAT DATANG, MOHON UNTUK KOMENTERNYA/IDENYA/SEBUAH JAWABAN TERGANTUNG DARI ISI. TERIMA KASIH.